7.9.08

kisah veteran tua

Suatu hari seorang veteran perang berusia 90 tahun mendatangi teman lamanya yang berprofesi sbg dokter. Ia datang dengan wajah ceria, sesuatu yang tidak biasa. Biasanya ia datang ke tempat sang dokter dengan wajah murung, sambil mengadukan nasibnya yang tak kunjung punya anak. Padahal 1 tahun lalu ia menikahi gadis berusia 19 tahun, setelah istri pertamanya meninggal 5 tahun sebelumnya.

"Knapa kau tampak ceria begitu?" tanya sang dokter.

"Aku sedang gembira. Sangat gembira. Akhirnya apa yang aku impikan bertahun-tahun datang juga," jelas sang veteran.

Sang dokter termangu sebentar, dan segera bisa menebak.
"Istrimu yang belia itu hamil?" tanyanya.

"Iya. Benar. Benar sekali," sang veteran tak bisa menyembunyikan kegirangannya.
"Tuhan memang maha adil. Aku percaya sekarang," imbuh sang veteran.

Sebelumnya, ia sering menyalahkan dan memaki-maki Tuhan karena tak kunjung punya anak.

"Syukurlah," kata sang dokter, sambil melanjutkan, "Aku punya cerita untukmu."

"Apa? Cerita apa?" tanya sang veteran.

"Suatu hari," kata sang dokter, "Peter, temen kita dulu, diajak berburu oleh teman-teman mudanya. Kebetulan sejak pensiun, ia jarang berburu. Ia senang sekali. Saking senangnya dan terburu-buru, ia salah mengambil senapan. Bukan senapan buru yang ia bawa, melainkan senapan mainan milik cucunya--yang kebetulan memang mirip dengan senapan burunya."

"Dasar pikun. Kayak kita, hahaha...'" sang veteran tertawa.

"Ya, begitulah," kata sang dokter.

"Lalu?" tanya veteran tua.

"Lalu ia pun berangkat berburu, tanpa menyadari bahwa senapan yang ia bawa salah. Ia masuk ke tengah hutan, kadang berombongan, kadang berpencar. Di saat ia sedang terpencar sendirian, ia melihat harimau di depannya. Jaraknya sekita 50 meter. Ia pun merunduk, mendekati sang harimau. Tapi sang harimau melihatnya. Anehnya, bukannya lari, sang harimau justru menatapnya. Tampaknya sang harimau sedang kelaparan. Ketika Peter mendekat, sang harimau tetap di tempatnya dan menatapnya. Ketika jaraknya tinggal 30-an meter, tiba-tiba sang harimau mengaum dan berlari menerjang Peter.

"Hah! Trus? Apakah maksudmu Peter mati dimakan harimau?," sang veteran tua terkesiap.

"Tidak. Peter tidak mati. Di saat harimau hendak menerjangnya, terdengar bunyi tembakan dan harimau tersungkur beberapa meter di depannya. Peter gembira bukan main. Ia merasa menarik pelatuk tepat pada waktunya. Ia merasa, meski sudah tua, masih cukup mampu berburu."

"Tidak mungkin. Kan senapan dia senapan mainan?" komplain sang veteran.

"Tapi itulah yang terjadi. Faktanya si harimau tertembak persis di depannya."

Sang veteran termangu tidak percaya. Bagaimana mungkin senapan mainan bisa membunuh harimau. Tapi bukankah keajaiban Tuhan memang suka datang tak terduga? Batinnya. Tapi tiba-tiba ia tersentak.
"Aha.. Pasti ada orang lain yang menembaknya. Mungkin temannya yang lain yang menembak harimau itu. Ya, pasti temannya yang menembaknya."

Sang dokter terdiam sejenak. Lalu berkata, "Nah, aku kira itu pula yang terjadi pada istrimu."

Huahahaha.......

*Diadaptasi dari lelucon Kabaret Metro TV, dengan sejumlah perubahan, hehe...

2 comments:

  1. lucu banget dach, aku ketawa nie hwhewe

    ReplyDelete
  2. Tertawa HaHaHaHaHaHa,,,,,,,,,,,, amait amit dah,,,, makanya biasa saja dong mbah.............................................

    ReplyDelete