27.9.08

kreativitas dan stagnasi















Kreativitas. Itulah mantra yang saat ini menggema di sejumlah kalangan di Indonesia. Mulai dari anak-anak muda hingga menteri. Di sejumlah tempat, mereka mengampanyekan apa yang disebut ekonomi kreatif. Ekonomi yang lebih berbasis ide ketimbang perkakas material.

Aku sendiri menyukai hal-hal kreatif, dan mengagumi orang-orang kreatif. Terlepas dari mereka banyak yang dianggap sebagai kapitalis. Aku menyukai Einstein, Bill Gates/Microsoft, Steve Jobs/Apple, Jeff Bezos/Amazon, Sergey Brin & Larry Page/Google, atau Bram Cohen/BitTorrent. Karena dorongan kreativitas itu pula aku mendirikan Fresh Book, sebuah penerbitan yang aku dedikasikan untuk menerbitkan karya-karya 'pop-kritis' dari seluruh penjuru dunia. Dan terakhir aku bikin Khatulistiwa Online--toko buku online ala Amazon yang aku proyeksikan untuk menjadi toko buku dan perpustakaan online.

Selama beberapa tahun belakangan ini, Indonesia mengalami stagnasi. Salah satunya penyebabnya karena sebagian besar orang hanya berfikir bagaimana memanen dan menikmati, tanpa tahu apa yang sudah mereka tanam dan sirami. Situasi krisis yang berkepanjangan tampaknya membuat orang cenderung menempuh jalan pintas--mulai yang dibenarkan ato tidak dibenarkan: korupsi.

Di negeri ini, semua orang hanya ingin memiliki. Mereka hidup dalam modus yang oleh psiko-analis Erich Fromm disebut sebagai mode of having. Kebanggaan dan keberartian ditentukan oleh apa yang dimiliki, bukan apa yang [telah] diperbuat. Memiliki sesuatu yang membanggakan menjadi nilai tertinggi: rumah mewah, mobil mahal, HP bagus, atau pacar cantik/ganteng. Semua orang seakan lupa bahwa semua kepemilikan akan lenyap seiring datangnya kematian.

Maka tidak heran jika negeri ini hanya menjadi negeri kaum shopaholic--di tengah kemiskinan sebagian besar warga. Dan pantas pula jika negeri ini tidak maju-maju. Karena isinya hanya para pemimpi harta dan popularitas yang bahkan tidak tahu kebaikan yang mungkin dilakukan dengan harta dan popularitasnya. Jika mindset dan budayanya masih seperti ini, 10 tahun lagi Indonesia akan tetap miskin dan tertinggal. Beda dengan Cina, India, Korea, atau Malaysia. Tapi sudahlah! Capek memikirkannya. Lama-lama aku bisa menjadi orang yang sinis gak ketulungan.

Kembali soal kreativitas, aku senang membaca tulisan tentang para penemu dan orang-orang kreatif. Karena ia membangkitkan semangat untuk maju. Ia mendorong kita untuk selalu berkreasi, sebagaimana Tuhan berkreasi menciptakan jagad raya yang luar biasa ini. Seperti edisi khusus NewsWeek yang bertajuk The Mind of an Inventor atau yang dalam edisi Asia-nya bertajuk Ideas Inc.--edisi lama yang aku baca-baca kembali.

Lihatlah paragrap pertamanya. Ia bukan hanya membangkitkan, tetapi juga menyadarkan betapa banyak kesalahan [orang dewasa] yang telah dilakukan, terutama di negeri ini--khususnya dunia pendidikan kita. Demikian kutipannya:

"Are inventors born, or are they made? Danny Hillis, who can't remember a time when he wasn't trying to make mind-blowing stuff, comes at the question, as usual, from an unexpected angle: potential inventors are un-made. "In some sense, every kid is inventive," he says. Without encouragement, a child's gleeful penchant for experimentation becomes endangered. "Kids invent things all the time until they get to school and adults tell them they shouldn't be wasting their time doing silly stuff," says Bran Ferren, Hillis's partner at Applied Minds, a company that invents amazing things for corporations like General Motors and institutions like the United States government.

1 comment:

  1. jadi kesimpulannya gimana untuk menumbuhkan kreativitas dan mengatasi stagnansi, mas?

    ReplyDelete