19.9.08

rame-rame berpolitik

Politik. Hari-hari ini, banyak orang mulai ramai membicarakan politik. Masalahnya sederhana: pemilu tidak lama lagi. Para kandidat presiden sibuk keliling kesana-kemari dan pasang iklan sana-sini. Juga para caleg: sibuk merancang dan mempersiapkan diri sambil menunggu pengguman daftar calon sementara yang akan diumumkan tidak lama lagi.

Dalam daftar calon presiden ada sejumlah nama. Mulai yang stok lama hingga yang pemain baru. Diantaranya: Soetrisno Bachir, Wiranto, Prabowo, Sultan, Megawati, SBY sendiri, dan beberapa lagi. Sementara di daftar caleg tentu lebih banyak lagi. Ada temen-temen mantan aktifis seperti Sinton, Budiman, Pius dan lain-lain yang tampaknya mencapai ratusan, hingga para artis seperti Wulan Guritno, Rieke, Mandra, Wanda, Mi'ing Gumelar, dan entah siapa lagi. Para aktivis NGO yang biasanya 'alergi' sama partai pun tidak ketinggalan. Misalnya Agung Ayu Putri (Elsam) serta Binny Buchori (Infid/Prakarsa).

Pemilu 2009 tampaknya akan ramai oleh para kandidat baru. Dan menurutku itu memberi harapan, meski tidak menjamin kepastian. Karena bagiku, kita sudah tidak bisa berharap pada politisi-politisi lama. Waktu 9 tahun (terhitung sejak pemilu 1999) sudah cukup menjadi bukti bahwa mereka tidak bisa membawa perubahan. Yang ada justru sebaliknya. Nasib rakyat kian terpuruk dalam kemiskinan dan ketertinggalan, sementara para politisi bersenang-senang dalam kemewahan--lewat korupsi dan tindakan-tindakan yang tidak bisa dilegalkan.

Politik, menurut filsuf Yunani Aristoteles, adalah segala tindakan yang terkait dengan negara dan masyarakat (polis). Politik adalah "seni mengatur masyarakat". Di dalamnya meliputi strategi dan perencanaan, pengambilan keputusan, pemenuhan hak dan kewajiban, menyeimbangkan konflik kepentingan, dan seterusnya. Politik adalah ikhtiar untuk menciptakan kemakmuran bersama--dan kebaikan.

Namun politik yang berkembang di Indonesia tidak seperti itu. Di Indonesia hari-hari ini, politik menjadi tak lebih dari sebuah kendaraan. Kendaraan untuk menggapai impian dan kepentingan. Bukan kepentingan umum (public virtue), melainkan kepentingan pribadi--dan kelompok. Sehingga, tidak aneh jika politik kita dipenuhi oleh korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Politik kita, alih-alih membawa kebaikan bagi kehidupan orang banyak, justru hanya menciptakan kemakmuran dan kemewahan di kalangan segelintir orang. Politik kita hanya melahirkan oligarch-opligarch baru yang tak ada bedanya dengan para kroni Cendana zaman dulu.

Apakah para calon politisi muda, teman-temanku, para artis, juga akan begitu? Aku tidak tahu. Tapi aku berharap mereka tidak demikian. Aku berharap mereka bisa amanah dan tidak korup seperti kebanyakan seniornya. Aku berharap mereka bisa membuktikan bahwa mereka berbeda. Semoga.

0 comments:

Post a Comment