26.10.08

Death Magnetic - Metallica












Sudah lama aku ingin menulis tentang album baru Metallica, Death Magnetic. Namun tidak kesampean juga. Aku belum sempet mendengar semua lagu dalam album tersebut, sehingga rasanya tidak sah jika aku buru-buru menulisnya. Maka begitu Kompas hari ini menulis ulasan pendek tentang album tersebut, aku memilih menguploadnya, alih-alih menunggu tulisan sendiri.

Agresi Raksasa Metallica
Kompas, 26 Okt 2008

Setelah vakum lima tahun, grup musik trash metal asal Amerika, Metallica, kembali berteriak kencang melalui album Death Magnetic. Kegagalan album St Anger (2003), yang jeblok di pasaran, membuat James Hetfield (vokal dan gitar), Lars Ulrich (drum), Kirk Hammet (gitar), dan Robert Trujillo (bas) berusaha menjadi ”Metallica” lagi. Majalah musik Rolling Stone bahkan mengibaratkan album Death Magnetic seperti invasi Rusia ke Georgia. ”Sebuah agresi mendadak dari raksasa yang tidur,” tulis Rolling Stone.

Dari sepuluh lagu di album Death Magnetic, sebagian besar adalah lagu berirama kencang. Harmonisasi permainan gitar Kirk Hammet dengan pukulan drum Lars Ulrich seperti yang kental terdengar di album ...And Justice For All (1988) kembali muncul di lagu ”The End of the Line” dan ”All Nightmare Long”. Ada juga lagu instrumental ”Suicide and Redemption” yang mengajak kita mengenang lagu ”Orion” (album Master of Puppets)

Single pertama yang diliris, ”The Day That Never Comes”, menunjukkan upaya Metallica berdamai dengan selera musik pasar. Irama musik yang pelan pada awal lagu dan lengkingan vokal James Hetfield disertai permainan kencang personel lain di akhir lagu mengingatkan lagu-lagu hits Metallica dengan model serupa, seperti One dan Fade To Black.

Meski demikian, energi bermusik Metallica harus berhadapan dengan faktor usia para personel. Kegarangan vokal Hetfield dan tenaga pukulan drum Ulrich, meski tetap memesona, tidak bisa dibandingkan dengan album-album Metallica sebelumnya.

0 comments:

Post a Comment