27.10.08

yang dibutuhkan dalam kewirausahaan

"Entrepreneurship is really more about a state of mind than it is about working for yourself. It's about being resourceful, it's about solving problem." --Jeff Bezos, pendiri Amazon.com


Besok aku kembali diminta untuk mengisi workshop entrepreneurship
lagi. Yakni oleh BSI Career, salah satu departemen kampus Bina Sarana Informatika. Dan oleh karenanya aku mesti bikin paper, dan juga slide show.

Dalam workshop-workshop sebelumnya, nyaris semua anak menyatakan bahwa modal adalah penghalang utama dalam upaya mewujudkan bisnis. Kebetulan sebagian besar mahasiswa BSI memang dari kelas menengah-bawah, sehingga kemampuan mereka untuk menyediakan modal sangat terbatas. Tapi apakah benar bahwa modal adalah problem terbesar dalam upaya mewujudkan bisnis? Dan apakah kita lantas mesti mengubur ide bisnis kita begitu kita merasa tidak punya modal? Tentu tidak.

Modal memang prasyarat yang tak terhindarkan dalam bisnis. Tapi ia bukan yang utama. Dalam sebuah bisnis, sesungguhnya yang terpenting adalah ide. Gagasan. Visi. Tanpanya, bisnis tidak mungkin terwujud. Google tidak mungkin ada kalo Larry Page dan Sergey Brin tidak pernah punya gagasan tentang mesin pencari (search engine). Begitu juga Amazon. Tidak akan ada jika Jeff Bezos tidak dihampiri ide toko buku online. Atau microsoft--yang juga tak mungkin lahir kalo Bill Gates tidak terfikir menciptakan software komputer.

Ya, ide atau gagasan adalah yang pertama dan utama dalam bisnis. Jika
di tataran ide sudah lemah, maka kemungkinan besar bisnis juga akan gagal--atau tidak berkembang. Berapa pun modal yang disediakan. Sebaliknya, jika di tataran ide cukup sempurna--dengan segala macam feasibility studies-nya, maka kemungkinan besar bisnis akan jalan dan berkembang.

Membangun bisnis itu tak ubahnya menanam pohon. Jika yang terfikir
di kepala kita adalah menanam pohon pisang, maka kita akan menuai sebatas 'kodrat' pohon pisang. Berbuah sekali dan setelah itu (mungkin) mati. Sementara jika kita menanam pohon mangga, maka kita akan menuai sesuai kodrat pohon mangga. Yakni berbuah berkali-kali. Skala ekonomi yang dicapai oleh pohon pisang dan mangga berbeda. Pohon pisang umurnya pendek, pohon mangga umurnya panjang. Pisang berbuah sekali, mangga bisa berkali-kali. Begitu pula bisnis. Ada bisnis yang memang skala ekonominya rendah, dan ada bisnis yang skala ekonominya tinggi.

Nah, yang sering banyak orang tidak mampu adalah menemukan (ide) bisnis yang skala ekonominya tinggi. Bisnis yang punya potensi tumbuh 'tak terbatas'. Memang banyak orang yang memiliki ide bisnis. Tapi kebanyakan bisnis-bisnis yang skala ekonominya sempit dan sangat terbatas. Apalagi, banyak orang Indonesia yang punya kecederungan meniru bisnis-bisnis yang sedang menjamur. Meski tentu saja hal itu
tidak selalu keliru.

Namun di sini kita melihat bahwa tidak banyak orang yang sanggup menelurkan ide bisnis yang brilian dan belum atau jarang dijalankan orang lain. Apalagi bisnis yang punya potensi tumbuh tak terbatas. Nyaris sangat jarang orang yang berhasil menemukannya. Di situlah hebatnya Google, Amazon, Microsoft. Atau Sosro dan Aqua.

Sebelum produk-produk itu lahir, tidak terfikir ada cukup banyak orang yang butuh mesin pencari, toko buku online, atau software komputer. Hidup kita baik-baik saja sebelum produk-produk itu tersedia. Begitu juga Sosro dan Aqua. Kita tidak terfikir butuh air putih kemasan atau teh dalam botol yang dijual lebih mahal dari bensin. Tapi begitu produk-produk itu dilahirkan, ia sanggup menyedot pembeli. Ia melahirkan pasar. Itulah yang lantas disebut product-driven, berbeda dengan kebanyakan produk yang rata-rata dicipta/dibikin setelah disinyalir ada permintaan pasar (market-driven).

Tantangannya kemudian dalam upaya menjadi entrepreneur adalah sejauh mana kita sanggup mencipta produk brilian atau inovasi kreatif yang sanggup menciptakan pasar dan punya skala ekonomi yang 'tak terbatas'. Bukan cuma bisnis-bisnis yang sudah banyak dijalankan orang dan hanya memiliki potensi tumbuh yang terbatas.

Para pebisnis terkemuka rata-rata adalah mereka yang memang punya ide bisnis dan visi yang brilian. Larry Page dan Sergey Brin sanggup melihat dan memprediksi kebutuhan pengguna internet jauh sebelum orang lain mampu melihatnya. Begitu juga Amazon. Atau Sosro. Mereka punya visi jauh ke depan, dan seakan punya mata elang.

Dan lebih dari ide, mereka juga punya spirit dan keberanian. Selama satu tahun lebih Amazon tidak membukukan untung. Begitu juga Google. Amazon bahkan diprediksi banyak pengamat bisnis Amerika akan gulung tikar--bersamaan dengan ambruknya bisnis dot com Amerika saat itu. Tapi mereka tidak berhenti. Mereka jalan terus. Mereka punya spirit, keyakinan, dan keberanian. Dan efek dari semua itu, kita bisa melihat sendiri hasilnya.

"A free spirit, vision, and the willingness to take chances are essential qualities for entrepreneurs," demikian kesimpulan Inc Magazine setelah mewawancarai sejumlah entrepreneurs sukses Amerika. Dan visi serta spirit yang dimaksudkan Inc Magazine hanya akan dimiliki oleh orang-
orang yang mencipta bisnis demi sebuah mimpi besar. Mimpi akan keberhasilan. Dan itu lebih dari soal uang/kekayaan. Mereka yang berbisnis semata-mata demi mengejar uang seringkali akan berhenti ketika dirasa bisnisnya tidak akan menghasilkan keuntungan dalam waktu yang diharapkan.

Pada akhirnya, entrepreneurship adalah lebih dari sekedar bisnis. Ia juga bukan sekedar bekerja untuk diri sendiri, seperti kata Jeff Bezos yang aku kutip di awal tulisan. Entrepreneurship terkait erat dengan mindset. Ia adalah semacam hasrat untuk memecahkan masalah. Hasrat untuk menjadi berguna, menjadi bermanfaat.

0 comments:

Post a Comment