4.10.08

jaringan gadis-gadis valley

Bukan hanya para pejabat Indonesia yang suka berkolusi. Gadis-gadis Silicon Valley pun suka berkolusi. Namun tidak seperti pejabat Indonesia yang berkolusi untuk menggasak uang negara, gadis-gadis Valley berkolusi dalam upaya meningkatkan karir, produktivitas, kreativitas dan melakukan terobosan-terobosan dalam dunia teknologi. Di dalamnya melibatkan istri salah satu pendiri Google, Anne Wojcicki; COO Facebook, Sheryl Sandberg; president Move, Lorna Borenstein; General Manager eBay, Stephanie Tilenius; dan masih banyak lagi.

Ya, berbeda dengan para pendahulunya, para pekerja kreatif Silicon Valley generasi sekarang tampaknya saling mengenal dan cukup dekat satu sama lain. Mereka membentuk linkage satu sama lain, saling mendukung, saling berbagi pengalaman dan tip, dan saling berkolaborasi. Lihat saja Anne Wojcicki. Ia mengenal baik Sheryl Sandberg, COO Facebok yang pernah bekerja di Google, dan berteman dengan Marissa Mayer, Vice President bagian Search Product and User Experience Google.

Atau Sheryl Sandberg. Petualangannya sebagai 'kutu loncat'--karena berpindah-pindah dari World Bank, McKinsey, U.S. Treasury, Google dan lalu Facebook--membuat ia mengenal banyak orang. Ia berteman baik dengan duo pendiri Google Sergey Brin dan Larry Page maupun pendiri Facebook, Mark Zukerberg. Ia juga dikenal sangat dekat dengan ekonom Bank Dunia, Larry Summer, yang tak ubahnya ayah angkatnya. Dari suaminya yang bekerja di Yahoo!, Sandberg mengenal Lorna Borenstein, presiden Move.com yang sebelumnya bekerja di Yahoo!, dan lewat Lorna, Sandberg mengenal Stephanie Tilenius, General manager eBay.

Perempuan-perempuan Silicon Valley itu berhubungan bukan hanya sebagai partner bisnis/kerja, melainkan juga sebagai teman. Dan sebagai teman, mereka sering curhat dan bertukar pikiran. Tidak selalu lewat kopi darat--karena kesibukan mereka, tetapi lewat Facebook, LinkedIn dan Twitter. Lorna Borenstein, misalnya, sering bermain-main lewat Yahoo! Alumni Geography-nya bareng Caterina Fake, yang merupakan co-founder Flickr, sebuah situs penyedia photo sharing. Terkait urusan anak dan rumah tangga, Anne Wojcicki sering bertanya pada kakaknya, Susan Wojcicki, yang notabene Google VP. Ia juga sering bertanya pada Sandberg terkait Google. Padahal ia adalah istri sang pendiri Google.

Hebatnya, Anne sendiri tidak berkarier di Google, melainkan bersama Linda Avey, ia mendirikan 23andMe, perusahaan penyedia data genetika (DNA). Ia berharap suatu hari nanti data genetika yang mereka kumpulkan bisa bermanfaat buat para dokter, peneliti atau pasien awam. Anne masih teringat benar kata Larry Page, kolega suaminya di Google, yang selalu bilang kepadanya, "If you think there's a problem, fix it." Dan 23andMe adalah jawaban Anne atas kelangkaan (masalah) sumber genetika.

Di sini, kita menyaksikan bagaimana gagasan dan semangat itu bersifat menular. Juga kreativitas. Jika kita hidup di lingkungan yang kreatif dan penuh semangat, maka kemungkinan besar kita juga akan kreatif dan bergairah. Sulit membayangkan Anne yang sebelumnya bekerja sebagai hedge fund analyst terdorong mendirikan 23andMe jika ia tidak berada di lingkungan Google. Fakta bahwa sebagian besar pendiri perusahaan IT terkemuka selama sepuluh tahun terakhir adalah sosok-sok dari Silicon Valley membuktikan bahwa lingkungan adalah faktor yang sangat penting.

Dari gambaran di atas kita juga melihat bahwa di balik perusahaan-perusahaan fenomenal di bidang teknologi, berdiri sosok-sosok--baik laki maupun perempuan--yang saling mengenal satu sama lain. Sandberg kecil kemungkinan menjadi COO Facebook jika ia tidak berteman dengnan Mark Zukerberg. Susan Wojcicki juga tak terbayangkan menjadi VP Google jika 'garasi'-nya tidak dikontrak oleh Sergei Brin dan Larry Page sepuluh tahun yang lalu. Dengan saling mengenal dan berjaringan, perempuan-perempuan di atas bisa meraih mimpinya dengan lebih mudah. "We're putting ourselves in the pathway of opportunities," kata Lorna Borenstein terkait 'klik' yang ia punya.

Pada akhirnya, fenomena di atas mengukuhkan apa yang disebut environmental effect dan juga network effect, subyek yang sempet aku tulis di dua posting sebelumnya: Network Effect dan Wikinomics & The Net Generation. So, sekali lagi, welcome to the network era, dan biasakan memanfaatkan kesempatan yang terkandung di dalamnya. Sebab seperti kata majalah Fortune, "The larger and more dynamic a network, the more valuable it becomes."


Note:
Silicon Valley adalah pusat perkantoran perusahaan-perusahaan IT terkemuka Amerika. Untuk mengetahui lebih detil baca posting saya sebelumnya, Silicon Valley.

4 comments:

  1. sebenernya ada kesamaan antara gadis-gadis di Silicon Valley dengan di Jakarta, sebagian besar adalah orang asing, hehehe konon tempat ngongkrongnya dikenal dengan sebutan "Digital Moose Lounge" ya fiq? hehehe Thanks for this inspiring story

    ReplyDelete
  2. Yg gw tau "Digital Moose Lounge" adalah kumpulan org-org Kanada yang bekerja di Silicon Valley atau San Francisco Bay Area. Gak tau kalo di Indo juga ada.

    ReplyDelete
  3. ratna yunita6/10/08 3:06 PM

    iya maksudnya yang di silicon valley :D kalo di indo mahh yang ada the valley, bandung, huehehehe

    ReplyDelete
  4. Sorry never interested on DUNIA MAYA.....pisss yoooo

    ReplyDelete