25.11.08

blogging for society?





"Every tool is weapon. If you hold it right." --Ani DiFranco

Sabtu kemaren aku menghadiri Pesta Blogger 2008. Selain temanya yang menarik, Blogging for Society, aku juga ingin mengetahui dan merasakan alam pikiran para blogger Indonesia. Aku ingin tahu apa yang diperbin-
cangkan di kalangan blogger, dihebohkan, yang menjadi concern dan perhatian.

Berangkat sekitar pk. 10.00 Wib, aku telat beberapa saat. Waktu sampai di lokasi, suasana sudah ramai. Bangku penuh terisi, termasuk sebagian tribun atas. Lebih dari 1000 orang hadir di pesta ini, dan tak sedikit yang dari luar kota--Bandung, Jogja, Bali, Medan hingga Makasar. Bahkan kalau tak salah juga ada yang dari Papua. "Sungguh militan para bloger ini," batinku.

Di depan ruangan acara ada sejumlah stand, mulai dari stand kedutaan Amerika hingga stand Speedy, Bubu, Jakarta Post dan Tempo. Aku berjalan masuk ke ruangan, melihat sekeliling, dan menyadari bahwa aku orang 'asing' di ajang tersebut. Tak ada yang aku kenal, sehingga aku merasa berada dalam masyarakat yang berbeda, hehe...

Namun setelah beberapa saat aku bertemu dengan sejumlah teman:
tiga wartawan dan satu teman jaman 98. Kami pun berbincang. Kami berbincang tentang pesta blogger yang sedang kami hadiri, yang menurut kami masih sebatas selebrasi. Tema Blogging for Society tampaknya terlalu 'wah' untuk komunitas blogger Indonesia. Karena sepertinya, blog-blog Indonesia sebagian besar didominasi oleh fun blog yang lebih berfungsi sebagai media curhat-curhatan--alih-alih persoalan masyarakat (society).

Ada sejumlah forum di PB 08, tetapi sepertinya juga tidak cukup menggugah peserta dan mampu mengakomodir tema. Nyaris tidak ada pergunjingan bagaimana blog relevan dengan problem-problem yang dihadapi masyarakat Indonesia. Singkatnya, PB '08 masih sekedar sebagai ajang kumpul dan kangen-kangenan, saling 'mempromosikan' blog masing-masing dengan bertukar puluhan atau bahkan ratusan kartu nama. Hasrat untuk mendedahkan diri lebih besar ketimbang mengapresiasi.

Lihat saja. Ketika ditayangkan slide show komunitas-komunitas blogger Indonesia, tepuk tangan hanya datang dari komunitas masing-masing. Ketika slide show menampilkan komunitas blogger Bali, yang bertepuk tangan sepertinya hanya anak-anak Bali. Begitu juga ketika slide show menampilkan profil blogger Jogja, Bandung dan seterusnya, hanya sebagian kecil yang bertepuk tangan--yang itu adalah kelompok itu sendiri. Dan ketika ditampilkan profil Lingkar Pena, nyaris tak ada yang tepuk tangan. Apes buat Lingkar Pena. Sepertinya anggota mereka tidak ada yang hadir, sehingga tidak mendapatkan applause.

Jika menilik suasana dan kasus tepuk tangan, sebagian besar orang tampaknya hanya peduli pada diri dan kelompoknya sendiri. Mereka belum sanggup memberikan apresiasi untuk yang lain. Karena kecenderungan macam inilah barangkali yang membuat blogging sering dicap sebagai tindakan narsis belaka, karena memang banyak blogger yang hanya peduli menampilkan diri.

Dengan kondisi demikian, tema Blogging for Society terasa belum menemukan momentumnya. Karena ia bukan cerminan dari blog-blog
yang ada di Indonesia. Atau justru memang itu
dimaksudkan untuk menggerakkan? Aku tidak tahu. Namun jika benar demikian, salut buat panitia. Karena itu berarti mereka menyadari bahwa blog di Indonesia belum banyak digunakan untuk memecahkan masalah bersama, dan dengan mengusung tema Blogging for Society panitia hendak berkampanye ke arah sana.

Blog, dengan segala feature-nya, memang bisa menjadi apa saja. Bisa sekedar buat main-main, bisa juga untuk menyampaikan sesuatu yang serius. Bisa bermanfaat, bisa tidak. Bisa membawa kebaikan, bisa juga kerusakan. Bisa untuk berbagi, bisa juga sekedar ajang narsis diri. Tergantung ia berada di tangan siapa.

Tentu, tidak ada yang salah dengan hasrat mengekspresikan diri. Narsis pun boleh. Karena setiap orang mesti bangga dan sanggup mencintai dirinya. Apalagi, blog sejak awal memang dimaksudkan untuk ruang ekspresi personal. Dan berbagi. Tetapi dengan tema sebesar itu, Blogging for Society, ia terasa terlalu "wah". Karena sebagian besar blogger kita belum ngeblog for society.

Akhirnya, sebagaimana dikatakan penyanyi revolusioner Ani DiFranco, "Every tool is weapon. If you hold it right." Begitu pula blog. Ia bisa saja menjadi alat yang efektif untuk memecahkan problem bersama--entah sosial, politik maupun ekonomi. Namun lagi-lagi itu tergantung kita semua, para bloger Indonesia.

Dengan sekian banyak masalah yang masih menyelimuti negeri ini dan spirit Blogging for Society, semoga para blogger Indonesia kian mampu menggunakan dan memanfaatkan blog sebagai senjata untuk mengatasi persoalan-persoalan bersama--lebih dari sekedar ekspresi personal dan nampang diri sebagaimana yang jamak terjadi selama ini, sehingga Blogging for Society tidak menjadi sekedar slogan belaka--seperti kampanye para politisi.

So, keep blogging! Let's have fun and make history.


Read also
denude before the ghosts

6 comments:

  1. nice to be there among thousands of indonesian blogger

    ReplyDelete
  2. he eh bener banget mas, tapi ya semoga kedepannya menjadi lebih baik...

    saya juga gak ikut..heheheh..takut ilang..

    *merasa tersindir sekaligus terlecut*

    good point mas :)

    ReplyDelete
  3. hei...ulasan yang beda :)
    i like it! [tanpa mengurangi rasa salut pada panitia ya atas kerja mereka]

    *doh, komentar gw serasa yang hadir di sana :p*

    ReplyDelete
  4. Berasa ditampar Kak, bacanya. Tapi kenyataannya emang gitu. Gue sendiri belum manfaatin blog secara maksimal. :(

    Btw, senang kemarin bisa ketemu dirimu disana.

    ReplyDelete
  5. gw rasa pasti ada alasannya para pembuat PB2008 itu ngangkat tema seperti itu, saya terus terng tidak tahu, datang karena di ajak dan beruntung bisa kopdar dengan beberapa teman dan bagiku itu tidak masalah...

    enjoy aja deh mending...

    kalo gw belum memanfaatkan kemampuan menulis saya dengan maksimal, bukan karena memanfaatkan blog, hehehe...

    ReplyDelete
  6. Dear Mas Savic,

    Salam kenal Mas Savic :) Sebagai salah satu panitia PB 08 saya mohon maaf bila dalam pelaksanaan PB 08 kemarin ada kekurangan di sana sini, semoga tahun depan bisa jauh lebih baik ya... Anyway, saya suka tulisan Mas Savic ini, memberikan saran dan kritik membangun dengan ulasan yang cerdas. Makasih ya Mas... Salam hangat dari semua teman-teman panitia PB 08.

    Cheers,

    Dimas

    ReplyDelete