28.12.08

indonesia, sda, dan politik ekonomi kita

Berita soal penangkapan gembong perdagangan senjata Rusia Viktor Bout tidak menggema. Namun, hal ini diharapkan menggema di hati para ahli strategis Indonesia, dengan tujuan mewujudkan secara benar kalimat indah ”Menjaga dan memelihara kedaulatan dan persatuan serta kesatuan bangsa Indonesia”.

Ini adalah kalimat klise dan membosankan dan terasa muluk-muluk. Ini adalah kalimat sakti yang kita nantikan untuk diwujudkan. Nyatanya, minyak dan gas alam Indonesia tidak dinikmati rakyat Indonesia sepenuhnya. Nyatanya, ikan-ikan Indonesia dicuri para nelayan asing. Nyatanya, negara gemah ripah loh jinawi ini tidak membuat kehidupan rakyat lebih baik dari yang seharusnya.

Bahkan, negara ini seperti masuk perangkap Doktrin Wolfowitz, mengambil nama dari mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Paul D Wolfowitz. Doktrin ini menyatakan bahwa jika ingin menguasai rakyat suatu negara, kuasailah sumber daya alamnya.

Entah suatu kebetulan atau tidak, hal inilah yang ingin dihindari Presiden Bolivia Evo Morales. Hal ini juga yang ingin dicegah Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin dan juga Presiden Venezuela Hugo Chavez. Hal ini juga yang ingin dihindari Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad.

Tapi lihat, apa julukan media Barat kepada Putin dan Chavez serta Ahmadinejad? Mereka dituduh sebagai diktator dan pemimpin ekstrem kiri. Posisi mereka di media Barat terasa tidak terhormat.

Namun, rakyat di negara-negara yang dipimpin para pemimpin tersebut kini lebih baik secara ekonomi. Bandingkan dengan puluhan tahun Amerika Latin di bawah dominasi AS. Amerika Latin pada dekade 1980-an pernah mengalami atau mendapatkan julukan sebagai wilayah yang hilang.

Adakah hal ini menjadi kesadaran Indonesia, atau setidaknya segelintir elite Indonesia, harapan seluruh bangsa? Menjadikan Indonesia yang lebih makmur memang tidak harus menentang penguasa dunia secara verbal dan frontal.

Akan tetapi, sangat perlu diingatkan agar para elite atau, katakanlah, para pemimpin kita tidak lugu. Elite dan para pemimpin harus taktis dan cerdik, secerdik Singapura yang meraup untung dengan keberadaan sumber daya negara tetangganya.

Kita harus cerdik seperti mantan PM Malaysia Mahathir Mohamad, yang di bawah pemerintahannya warga Melayu memiliki jati diri, setidaknya secara ekonomi.

Atau, jangan-jangan elite kita sungkem dan bangga jika bisa dekat dengan elite AS, Eropa, dan Jepang yang kehadiran investornya nyatanya tak banyak melahirkan kemakmuran bagi kebanyakan rakyat Indonesia.

Pesan ini disampaikan sehubungan dengan kasus Viktor Bout. Ini adalah tokoh yang ada di balik pemasokan senjata ke daerah konflik, yang memecah belah negara kaya sumber alam.

Pernahkah kita menggugat konflik-konflik di Indonesia yang pernah melanda sejumlah provinsi Indonesia? Apakah konflik itu murni karena persoalan internal tanpa dipicu elemen asing? Semoga saja tidak pernah ada elemen asing. Namun, kita jangan terlalu lugu.

Lebih jauh dari itu, pernahkah kita menyadari bahwa kolonialisme era baru tetap berlaku walau tidak lagi dalam bentuk rodi seperti di zaman penjajahan Jepang?

Mengingatkan pesan pendiri

Indonesia adalah negara yang terkenal ramah dan baik. Namun, janganlah kebaikan ini dimanfaatkan asing dengan muka ramah, tetapi hanya mengeruk kekayaan Indonesia.

Tentu untuk mewujudkan semua itu, harapan akan perubahan perangai yang disampaikan tidak saja tertuju kepada para elite atau pemimpin. Ini juga tentunya diharapkan menjadi kesadaran para elite Indonesia, setidaknya elite di kalangan kecil.

Harapan ini sangat mengena menjelang Pemilu 2009, di mana kita berharap segera muncul pemimpin dan elite-elite kecil di pusat dan di daerah yang menjual program bagaimana memakmurkan Indonesia secara lebih berarti.

Para pendiri bangsa kita telah mengingatkan secara tegas dan tertancap dalam soal kedaulatan dan kemakmuran. Salah satunya yang selalu kita ingat adalah isi satu pasal di UUD ’45, yakni kekayaan alam harus dimanfaatkan sebesar-besarnya demi kemakmuran rakyat.

Kita tidak pernah mengakuinya secara eksplisit, tetapi fakta menunjukkan, kekayaan alam yang berlimpah ruah itu tidak dirasakan rakyat kebanyakan. Banyak dari warga yang berjuang dengan biaya sekolah, biaya kehidupan sehari-hari.

Jadi, sekali lagi kita jangan terlalu lugu. Kemiskinan warga RI adalah juga karena kebodohan yang melilit warga bangsa, sebuah kebodohan yang antara lain terjadi karena ketidakmampuan menjangkau pendidikan, sebuah kebodohan yang menjadi warisan penjajahan, yang sejauh ini belum terkikis.

Ini adalah pesan yang tidak perlu menyudutkan siapa pun. Ini adalah pesan untuk sebuah perubahan akan munculnya masa depan yang lebih baik.

Jangan hanya kagum Obama

Alangkah baiknya jika elite-elite Indonesia tidak hanya excited dengan keberadaan dan keberhasilan presiden terpilih AS, Barack Obama. Tentu akan menyenangkan jika pada Pemilu 2009 muncul si agen perubahan ala Indonesia.

Obama adalah tokoh lintas batas ras, usia, jender, dan etnis. Elite Indonesia jangan lagi terjebak pada komoditasi politik usang yang semata-mata mengandalkan taburan uang, yang semoga uang itu pun bukan uang haram hasil korupsi.

Menyedihkan jika Obama hanya dikagumi, bukan dituruti atau ditiru. Obama mengajarkan kita soal sebuah perubahan yang kita yakini bisa terjadi (Change We Believe In).

Seperti kata pakar kepemimpinan asal India, Anthony D Souza. Pesannya, ”Jika Anda yakin pada sesuatu hal baik yang akan Anda lakukan, maka lakukanlah itu dengan sebuah kebulatan tekad, keajaiban akan menyertai kebulatan tekad.”

Ditulis oleh Simon Saragih, Kompas, Minggu, 28 Des 08

0 comments:

Post a Comment