26.4.09

social entrepeneurship sebagai gerakan sosial baru

Orang-orang idealis selalu ingin mengubah dunia. Martin Luther, Gandhi, Obama, adalah beberapa diantaranya. Atau para nabi-nabi manusia: Mohamad, Isa, Musa dan seterusnya. Dan dalam usahanya untuk mengubah dunia, banyak cara ditempuhnya. Namun yang paling sering diambil tak lain adalah jalan "politik".

Hingga hari ini, politik memang masih menjadi pilihan utama ketika seseorang ingin memperbaiki dunia, bangsa atau negara. Dan hal itu tentu saja mudah dipahami. Karena dengan politik, seseorang memiliki otoritas atas masyarakat (orang banyak), memiliki kekuasaan untuk mengatur dan memerintah. Dengan politik, seseorang bisa membuat jutaan orang punya akses yang lebih baik terhadap pendidikan, kesehatan--dan juga pekerjaan. Singkat kata: masa depan. Dengan politik, orang bisa membersihkan kotoran-kotaran yang menempel di kulit dan jantung kehidupan sosial kita: para koruptor, mafia, bandit jalanan, atau aparat gadungan.

Namun dengan politik, seseorang juga bisa merampas itu semua: hak atas pendidikan, kesehatan dan kemakmuran warga. Politik, sebaliknya, juga bisa menciptakan mafia, bandit, koruptor atau aparat-aparat pro-kekuasaan. Dan contoh untuk politik yang seperti ini ada sederet jumlahnya--termasuk Indonesia.

Sebagian besar temen-teman (aktivis pergerakan) di Indonesia tampaknya masih memilih jalan politik agar bisa tetap memperjuangkan "Indonesia". Selain karena politik lebih membawa efek massal seperti saya sebutkan di atas, juga karena naluri, pengetahuan dan skill teman-teman memang ada di situ. Bertahun-tahun mereka bergulat dengan dinamika pergerakan, membangun naluri, meningkatkan pengetahuan, mengasah keterampilan (diplomasi, pressure dst), dan sudah menjadi keniscayaan jika pada akhirnya mereka bertahan di sana.

Namun di tengah iklim politik yang tak kunjung lebih baik dan krisis kepercayaan masyarakat terhadap institusi politik sedemikian tinggi, berfikir tentang "jalan lain" untuk menciptakan perubahan tampaknya harus mulai diupayakan. Keterpurukan ekonomi masyakarat (bukan negara, karena pemerintah mengklaim berhasil dengan ukuran pertumbuhannya) tak urung membuat orang-orang menjadi lebih pragmatis. Apa yang membawa hasil/efek jangka pendek cenderung lebih dikejar. Orang tidak mau diajak berpanjang-panjang, beridealisme, berimajinasi tentang kemajuan dan kebesaran, karena semua kata-kata dan slogan itulah yang selama ini telah digunakan untuk menipu mereka.

Pragmatisme yang melanda masyarakat memang sesuatu yang sangat disayangkan, tetapi ia adalah produk yang masuk akal (reasonable effect) dari politik yang kotor dan tidak berpihak ke rakyat. Dan untuk memperbaikinya butuh waktu yang tidak pendek. Salah satunya dengan membangun gerakan yang punya efek langsung ke kehidupan mereka. Dan dalam kondisi Indonesia sekarang, "gerakan sosial-ekonomi" adalah hal yang paling masuk akal.

Meski skala efeknya tidak sebesar politik, tapi hal ini bisa memulihkan kepercayaan dan harapan masyarakat atas negeri mereka: Indonesia. Mohamad Yunus dengan Grameen Bank-nya atau Bono dengan ONE Movement-nya adalah contoh bentuk tindakan sosial yang bisa membawa perubahan signifikan dalam kehidupan seseorang atau masyarakat. Di Indonesia, hal-hal seperti ini pun bukan sesuatu yang tidak ada. Ada cukup banyak tindakan "pemberdayaan" semacam ini, tetapi skalanya belum cukup untuk mendorong perubahan yang signifikan dalam level nasional. Di negeri ini, ada cukup banyak orang serta lembaga yang giat mendirikan sekolah gratis, memberikan beasiswa, membantu pengrajin kecil, pedagang kecil dan seterusnya, tetapi dampaknya masih belum begitu terasa.

Ada banyak sebab kenapa semua itu terjadi. Salah satunya karena dalam gerakan pemberdayaan tersebut, dimensi politik justru dinafikan. Padahal seperti saya sebut di atas, politik adalah kekuatan penting dalam perubahan. Ia bisa menggerakkan, namun juga bisa menghancurkan. Maka dimensi politis tetap penting dalam upaya-upaya pemberdayaan sosial. Anda bisa menggelar sekolah gratis atau memberi beasiswa pada ratusan anak, tetapi jika kebijakan pendidikan pemerintah (politik) sangat buruk, apa yang Anda lakukan akan menuai kegagalan. Anda juga bisa memberdayakan dan mendampingi pedagang atau pengrajin kecil dengan memberi pelatihan serta pinjaman, tetapi jika kebijakan pemerintah sama sekali tidak berpihak kepada orang-orang kecil tersebut, cepat atau lambat juga Anda akan berada di jalan buntu.

Dengan fenomena tersebut, peran aktivis atau mantan aktivis (atau secara umum orang-orang yang mengerti dan punya keberanian secara politik) dibutuhkan dalam gerakan sosial-ekonomi. Tentu saja, itu berarti bahwa "kaum aktivis" mesti juga mengerti soal ekonomi, bisnis, manajemen, pelatihan praktis dan sejenisnya. Dan jika memang punya tekad, bagi saya, bukan hal yang sulit untuk mengerti itu semua. Dan saat ini, sekarang, di saat orang-orang kian pragmatis dan mengharap ada gerakan yang bisa membawa dampak langsung pada kehidupan mereka, adalah saat yang tepat untuk melakukannya: social entrepreneurship.

Tentu, social entrepreneurship tidak mesti seperti Grameen Bank. Karena untuk itu cukup banyak prasyarat yang harus dipenuhi: sistem, jaringan, modal, kemampuan teknis dst. Ia bisa juga hal-hal yang lebih individual seperti Google atau Facebook. Lewat Google, Sergrey Brin dan Larry telah membantu mencerdaskan jutaan orang dan menghemat biaya untuk pintar, karena ia memudahkan kita mendapatkan informasi. Dan hebatnya lagi: gratis. Begitu juga Facebook. Dengan Facebook, kita bisa tetap terhubung dengan teman-teman lama, jauh, jarang ketemu, sehingga keterhubungan sosial kita (social connectivity) tetap terjaga.

Saya sendiri berfikir untuk bisa berbuat sesuatu di situ: memberi pelatihan pembuatan toko online (website) sederhana serta cara marketing online kepada pengrajin atau para pedagang kecil yang membutuhkannya. Karena itulah yang saya mampu. Dan saya kira, ada banyak orang yang sanggup melakukan hal serupa--bahkan dengan skala yang lebih besar. Tinggal masalahnya adalah apakah kita berani mengambil keputusan ke arah sana atau tidak. Tidak melulu politik tetapi terjun ke domain social entrepreneurship.

Ada ribuan aktivis mahasiswa pada tahun '98, dan itu adalah kekuatan laten yang akan luar biasa jika bisa digerakkan kembali: lewat model yang berbeda (sosial-ekonomi). Aku pernah bilang ke beberapa teman, "Kita telah sanggup menjadi footnote dalam sejarah penggulingan Soeharto dan pergerakan mahasiswa '98, dan aku yakin kita juga sanggup mendorong perubahan lewat cara yang berbeda: membangun bisnis yang punya dampak sosial." Karena sebagaimana dikatakan Sheryl Sandberg, Chief Operating Officer Facebook yang juga mantan pekerja Google, "The right decisions and the right investments can change the world."

Don't you believe it?

0 comments:

Post a Comment