11.9.09

entrepreneur muda dan hasrat mengubah dunia

"I've always had an interest in how we improve people's ecosystems--wheter it's civic or education or economics," demikian kata Reid Hoffman, punggawa awal Paypal serta pendiri situs social networking untuk kalangan profesional dan entrepreneur, LinkedIn.

Apa yang bisa kita ambil dari perkataan tersebut? Tak lain adalah hasrat untuk menjadi relevan bagi kehidupan manusia, hasrat untuk memperbaiki dan mengubah dunia. Menilik yang mengucapkannya adalah seorang pebisnis, entrepreneur, di telinga sejumlah orang barangkali terdengar aneh. Karena pebisnis identik dengan hasrat akan penumpukan kekayaan, yang menjadi ciri kaum kapitalis.

Tapi jika kita perhatikan orang-orang IT Amerika sekarang (yang rata-rata masih muda), mereka sepertinya berbeda dengan generasi pendahulunya. Anak-anak muda itu seolah dipenuhi hasrat yang sangat besar untuk membuat dunia lebih baik. Mereka ingin menjadi bagian dari ikhtiar manusia untuk memperbaiki dan meningkatkan kebudayaan, pengetahuan dan peradaban. Mereka ingin memengaruhi dunia. Dalam tingkat tertentu, cara berfikir dan berperilaku mereka lebih tampak seperti aktivis ketimbang pebisnis.

Tengok saja Larry Page dan Sergey Brin, duo pendiri Google. Mereka mencipta mesin yang membuat kita dengan mudah menemukan "apa pun" yang kita cari, dan gratis! Gaya hidupnya pun tak tampak seperti pebisnis. Mereka lebih sering barpakaian casual ketimbang pakai jas dan dasi. Meski milyuner, mereka tidak menggunakan BMW, Mercy atau Jaguar, tetapi mencukupkan diri dengan Toyota Prius, mobil ramah lingkungan yang "hanya" berharga US$20-an ribu. Bandingkan dengan orang-orang kaya Indonesia.

Begitu juga Mark Zuckerberg, pendiri Facebook. Facebook telah memainkan peran yang luar biasa dalam menjembatani persahabatan dan hubungan antar kita semua di dunia modern yang serba terbatas waktu ini, dan meski dinobatkan sebagai salah satu pemuda terkaya di dunia, ia lebih senang tinggal di apartemen sewaan sederhana ketimbang di kondominium mewah.

Ada juga Bram Cohen, penemu protokol BitTorrent yang membuat kita bisa menikmati sharing file lewat software semacam Limewire atau Vuze. Anak muda yang mengidap sindrom Asperger ini juga tak tampak seperti pebisnis, tetapi lebih seperti aktivis--dan autis. Ia seolah sengaja menciptakan BitTorrent untuk melawan hegemoni dan monopoli industri musik dan film Amerika. Ia merasa praktek saling-meminjamkan adalah salah satu tonggak kehidupan bersama umat manusia, dan itu tidak boleh dihapuskan begitu saja atas nama copyright dan sejenisnya. Di monitor komputernya sewaktu remaja, bahkan tertempel kata-kata: Destroy Capitalism.

Selain duo Google, Mark Zuckerberg serta Bram Cohen, masih ada Jimmy Wales, pendiri Wikipedia, Linus Torvalds, penemu Linux, dan masih banyak lagi. Secara bisnis dan finansial, mereka boleh dikata sudah cukup sukses. Tetapi mereka tidak pernah membanggakan kesuksesan finansialnya. Dari sejumlah perkataan di berbagai wawancara yang pernah aku baca, tampak bahwa orang-orang ini tidak terobsesi pada uang dan kekayaan, tetapi lebih terobsesi pada kreativitas inovasi dan penciptaan, serta hasrat untuk mengubah dunia. Dan sebagaimana pernah dikatakan COO Facebook, Sheryl Sandberg, "the right decision and the right investment in business can change the world."

Dalam sepuluh tahun terakhir ini, banyak sekali lahir orang-orang yang punya mimpi dan obsesi seperti mereka. Diantaranya Reid Hoffman. Nama yang terakhir ini bahkan unik, karena ia mahasiswa jurusan filsafat, bidang yang sama sekali tak ada kaitannya dengan dunia teknologi. Tetapi karena hasrat untuk menjadi (lebih) relevan dengan kehidupan manusia, ia menekuni IT (bergabung dengan Paypal, bekerja di Apple dan Fujitsu) dan lalu mendirikan LinkedIn, yang telah mempertemukan ribuan pebisnis dan entrepreneur muda sehingga bisa saling bekerjasama menggarap proyek-proyek bisnis yang punya dampak bagi perbaikan perdaban manusia.

Hoffman, yang adalah mahasiswa S2 Oxford merasa bahwa filsafat bukanlah bidang yang tepat jika kita ingin bisa memengaruhi kehidupan orang banyak. "When I was undergrad at Standford, I thought the way to do that was to be an academic. Then I saw that wasn't the right way. At Oxford when studying philosophy, I decided software entrepreneurship was the way," katanya.

Dan sepertinya, aku pun merasa begitu. Huhuhuhuuu....

0 comments:

Post a Comment