27.10.09

ideologi kelas menengah indonesia (?)

Kesadaran sering lahir seiring bencana. Itu pula yang terjadi di Amerika. Paska peristiwa 11 September, banyak orang Amerika yang mengubah jalan hidupnya. Mereka yang selama bertahun-tahun memanjakan diri dalam budaya konsumerisme kini mulai banyak yang peduli pada masalah-masalah sosial. Bukan hanya mereka yang dari kalangan biasa, tetapi tak ketinggalan para selebritis kelas dunia: Angelina Jolie, Oprah Winfrey, Jacqueline Novogratz, hingga Warren Buffet dan Bill & Melinda Gates

Peristiwa pengeboman WTC yang memakan lebih dari 5000 jiwa itu memang membawa dampak yang luar biasa buat kelas menengah Amerika. Peristiwa itu membuat trauma, sekaligus menyentak kesadaran: bahwa ada yang salah denga perilaku (pemerintahan) mereka. Mereka pun lantas ingin menebusnya, dengan melibatkan diri dalam berbagai upaya mengatasi masalah global: penyakit, kemisikan, kesenjangan pengetahuan.

Lantas bagaimana dengan kelas menengah Indonesia? Sulit untuk menjawabnya. Belasan tahun yang lalu, ketika Indonesia masih dicengkeram rezim Orde Baru, aku memendam kemarahan yang luar biasa terhadap kelas menengah Indonesia. Mengapa? Karena mereka tak lebih dari orang-orang yang hanya memikirkan diri mereka sendiri, yang asyik dalam kehidupan nyaman mereka, tanpa mau menyadari sedikit pun bahwa di luar mereka, tak jauh dari rumah mereka, orang-orang tidur di emperan toko, pinggiran jalan tol, kolong jembatan. Mereka juga tak sadar--dan sekaligus tak begitu peduli--bahwa ada jutaan orang yang tak sanggup sekolah (apalagi kuliah), yang sehari-hari hidup dengan tak lebih dari 20 ribu rupiah per hari, sementara anak-anak kelas menengah uang jajannya sudah lebih dari itu. Mereka seolah merasa bahwa Indonesia baik-baik saja, bahkan beberapa menganggapnya sebagai negara yang lumayan maju, karena mereka menggunakan keluarga mereka sebagai ukuran.

Tapi sekarang, kemarahan itu sudah jauh mereda. Pengalaman '98 di mana banyak mahasiswa berlatar kelas menengah yang bersedia melibatkan diri melawan tirani Soeharto mengubah sebagian pandanganku. Paska '98 aku juga melihat cukup banyak warga kelas menengah (Jakarta) yang peduli dengan masyarakat 'sekitar' mereka.

Tapi belakangan, skeptisisme itu muncul lagi. Aku melihat tendensi kelas menengah Indonesia kembali ke karakter seperti zaman Orde Baru: hanya peduli pada apa yang membuat mereka senang, kelas mapan yang cenderung self-centric, konsumeristik, pro status-quo dan enggan direpotin sama masalah-masalah sosial yang bisa bikin pusing.

Memang ada banyak event kelas menengah yang seolah menunjukkan kepedulian mereka: kampanye melawan kemiskinan, pemanasan global, persatuan nasional (Indonesia Unite) dan seterusnya. Tetapi sepertinya itu tak lebih dari slogan. Karena semua dilaksanakan lewat pentas di mall-mall, lapangan, forum internet, dengan berbagai banner, spanduk, kaos, sticker dan tak lupa, sponsor. Bagiku, tentu saja, itu diragukan akan bisa membawa dampak yang nyata. Bahkan aku mencurigai itu tak lebih dari kesenangan baru dan hobi semata, karena dilakukan secara simultan dan tidak berkelanjutan. Padahal semua masalah itu (persatuan nasional, kemiskinan, pemanasan global) hanya bisa diusahakan lewat upaya yang serius dan berkelanjutan.

Justru, sebagaimana jeans yang direbut oleh kapitalis dari kaum bohemian serta jazz yang direbut oleh kelas elit dari tangan kaum budak, domain kampanye sosial (social campaign) yang sebelumnnya digawangi oleh kalangan aktivis mulai direbut oleh kelas menengah borjuis. Jika semua dikerjakan dengan serius dan dengan intensitas yang lebih tinggi, tentu tidak ada masalah. Tapi jika hanya dijadikan ikon dan brand, maka itu tidak ada bedanya dengan Islam yang sekarang di jadikan brand oleh FPI dalam gerakan-gerakan anarkisnya. Bendera dan slogannya islami, tapi perilakunya tidak menunjukkan nilai-nilai islami. Begitu juga kelas menengah: brand dan slogannya peduli, nasionalis, pro green-life, tapi perilakunya tidak menunjukkan bahwa ia peduli, nasionalis dan pro green.

Namun sesungguhnya tidak ada yang aneh dengan semua itu. Kelas menengah kita lahir dari proses politik-ekonomi yang tidak adil, yang membuat sebagian besar orang miskin terpinggirkan dan membuat beberapa makmur gak ketulungan. Kelas menengah kita berbeda dengan kelas menengah Eropa, yang memang lahir dari proses kerja keras yang tanpa henti. Kelas menengah kita, sebagian besar lahir karena orang tua dan keluarga mereka punya kedekatan denga kekuasaan, sehingga memadapatkan banyak privilige politik dan ekonomi yang membuat mereka jauh dari masyarakat kebanyakan.

Kelas menengah kita, tidak seperti kelas menengah Eropa, sangat sedikit yang melek politik dan memiliki kesadaran (ideologi), sehingga sangat sulit diharapkan menjadi penggerak perubahan. Alih-alih penggerak perubahan, mereka bias pro status-quo dan lebih cenderung mendukung kekuasaan. Karena mereka merasa kekuasaan (saat itu dan saat ini) telah membawa kehidupan yang baik dan nyaman buat mereka, tanpa menyadari bahwa kekuasan yang menguntungkan mereka di sisi lain telah menyebabkan penderitaan jutaan keluarga di luar sana.

Aku selalu berharap Indonesia menjadi negara yang demokratis namun sekaligus makmur, karena kesenjangan ekonomi di negeri ini begitu tinggi. Dan itu hanya bisa terwujud jika ada lapisan kelas menengah yang menyadari situasi dan melakukan sesuatu. Beberapa tahun ini banyak teman-temanku yang berasal dari kelas menengah, dan mereka telah menunjukkan bahwa mereka peduli. Tapi sebagaimana pengakuan beberapa, mereka juga tidak yakin apakah (kelas menengah) yang lain akan peduli. "Mereka hanya peduli shopping dan Blackberry," katanya.

Jika demikian halnya, apa mau dikata? Mereka yang tidak diuntungkan oleh sistem politik-ekonomi yang berlaku di negeri ini harus memperjuangkan nasibnya sendiri. Atau berdoa agar ada sejenis "bencana" yang membuat kelas menengah Indonesia terbangun dan tersadar akan tanggungjawab sosial mereka, sebagaimana warga Amerika.

Pada akhirnya, aku teringat akan pusisi WS. Rendra, Sajak Orang Kepanasan, yang dicipta pada masa awal kejayaan Orde Baru, berbarengan dengan lahirnya kelas menengah baru:

Karena kami makan akar
dan terigu menumpuk di gudangmu
Karena kami hidup berhimpitan
dan ruangmu berlebihan
maka kami bukan sekutu

Karena kami kucel
dan kamu gemerlapan
Karena kami sumpek
dan kamu mengunci pintu
maka kami mencurigaimu

Karena kami telantar di jalan
dan kamu memiliki semua keteduhan
Karena kami kebanjiran
dan kamu berpesta di kapal pesiar
maka kami tidak menyukaimu

Karena kami dibungkam
dan kamu nyerocos bicara
Karena kami diancam
dan kamu memaksakan kekuasaan
maka kami bilang TIDAK kepadamu

Karena kami tidak boleh memilih
dan kamu bebas berencana
Karena kami semua bersandal
dan kamu bebas memakai senapan
Karena kami harus sopan
dan kamu punya penjara
maka TIDAK dan TIDAK kepadamu

Karena kami arus kali
dan kamu batu tanpa hati
maka air akan mengikis batu



0 comments:

Post a Comment