6.1.10

gus dur: kyai pencerahan




Abdurrahman Wahid Addakhil atau lebih dikenal Gus Dur telah pergi. Namun ia meninggalkan warisan, pengaruh dan kenangan yang tak akan pernah pupus bagi banyak orang. Bukan hanya bagi warga NU, tapi bagi rakyat Indonesia pada umumnya.

Lahir di Denanyar Jombang 69 tahun yang lalu, Gus Dur adalah sosok yang unik dan kontroversial. Humornya sering mengundang gelaktawa, dan gagasan-gagasannya sering mengejutkan dan memicu perdebatan. Namun semua itu seolah semakin mengukuhkan kecerdasan, wawasan serta visinya yang jauh ke depan.

Bagi generasi muda NU, Gus Dur adalah sosok pembaharu, kyai pendobrak, yang membawakan obor pencerahan (aufklärung) di tengah kebutaan banyak warga NU atas dunia. Keteguhan dan keberaniannya dalam menentang ketidakadilan dan membela yang lemah juga menjadi inspirasi lahirnya aktivis-aktivis muda NU di era 80 dan 90-an, dan pergaulannya yang lintas sektoral membantu kyai-kyai untuk mengembangkan sikap terbuka dan menanamkan watak kosmopolitan.

Gus Dur tak ubahnya meteor kaum nahdliyyin yang sulit dicari bandingannya. Ia adalah pemikir yang brilian, menguasai dengan baik khazanah pemikiran Islam tetapi juga akrab dengan khazanah Barat. Ia menguasai bahasa Arab, Inggris dan Perancis dengan baik, fasih membaca kitab kuning namun juga akrab dengan ilmu sosial dan buku-buku kiri, serta pecandu sastra dan musik—selain sepakbola. Masa remajanya boleh dikata dipenuhi gabungan tiga hal: kegilaan atas sepakbola, kecintaan akan buku dan kegandrungan terhadap musik.

Di saat santri-santri NU di seantero negeri hanya berkutat dengan tafsir, hadits dan ushul fiqh (kitab kuning), ia sudah membaca Das Kapital-nya Marx, What is To Be Done-nya Lenin dan Prison Notebook-nya Gramsci, serta bercumbu dengan novel-novelnya John Steinbeck, Hemingway, Tolstoy dan Dostoevsky. Di saat warga NU hanya akrab dengan rebana dan kasidahan serta para kyai masih berselisih paham soal hukum sejumlah alat musik, Gus Dur sudah menenggelamkan diri dalam kemerduan suara Ummi Kultsum dan kemegahan aransemen Beethoven serta Bach, dan berjingkrak dalam entakan Summertime dan Me and Bobby McGee-nya Janis Joplin.

Sepertinya, Gus Dur adalah orang NU pertama yang memiliki minat yang sedemikian luas atas kebudayaan dunia, atau bahkan mungkin satu-satunya. Ia mengetahui dengan baik sejarah Amerika, Eropa, Timur Tengah dan tentu saja Indonesia. Ia sangat tertarik dengan Aera Europa-nya Jan Romein, dan mengagumi Franklin D. Roosevelt yang ia anggap punya visi dan semangat hidup yang luar biasa. Berdasar pengetahuan penulis, hanya adik bungsunya, Hasyim Wahid atau lebih dikenal Gus Im, yang memiliki minat yang kurang lebih sama.

Persentuhan Gus Dur dengan beragam bacaan itulah yang melatari keterbukaan sikap dan pikirannya, selain didikan orang tuanya, K.H. Wahid Hasyim. Sejak kecil ia sering menyaksikan ayahnya berbincang akrab dengan tokoh-tokoh yang dianggap berseberangan dengannya, termasuk Tan Malaka, di mana Gus Dur sering membukakan pintu sang tamu malam ayahnya itu. Ketika menempuh SMEP di Jogja, alih-alih ditempatkan di pesantren NU yang cukup banyak jumlahnya di Jogja, Gus Dur justru dititipkan oleh ayahnya pada K.H. Juneidi yang notabene anggota Majlis Tarjih Muhammadiyah, organisasi yang sering dianggap berseberangan dengan NU.

Isyarat sang ayah dari berbagai sikap dan perlakuannya itu membuat Gus Dur tidak pernah punya ketakutan untuk berhubungan dengan siapa pun dan mempelajari apa pun. Ia tidak pernah tabu untuk membaca buku, namun selalu mendudukkan diri sebagai pembaca yang kritis. Ia, misalnya, mengkritik V.S. Naipaul karena dianggap memberi gambaran yang keliru atas Islam dan pesantren di Indonesia dalam bukunya, Among the Believers.

Membaca, bagi Gus Dur, tidak sama dengan persetujuan. Justru dengan membaca buku-buku yang tidak kita setujuilah kita bisa memperkuat gagasan kita. Ada dialektika gagasan di sana, dan itu bisa membawa pada pemikiran baru yang lebih maju. Sebagaimana para filsuf pencerahan di Eropa, Gus Dur berusaha membangun ruang publik (public sphere) dan iklim diskursif di mana gagasan-gagasan dan tabu diperdebatkan.

Keterbukaan Gus Dur bukan hanya dalam soal pemikiran, tapi juga tercermin dalam sikap keimanannya. Tak segan-segan Gus Dur melontarkan kritik atas kejumudan berfikir dan ortodoksi umat Islam, yang hal itu membuat ia sering dihujani cercaan, bahkan dicap kafir oleh sejumlah golongan. Bagi Gus Dur, ikhtiar mempertebal keimanan bukan dengan cara membentengi diri dengan tembok tebal konservatisme dan menutup mata atas kekeliruan, namun dengan keberanian mengoreksi keyakinan dan penafsiran.

Ajaran orang tuanya, petualangannya atas berbagai macam buku dan aliran serta sejumlah pengalaman hidupnya (diantaranya pertemuannya dengan sahabat Yahudinya, Ramin, di Irak) pada gilirannya membawa Gus Dur pada satu sikap yang tak pernah tergoyahkan: menegakkan Islam yang mengayomi semuanya (rahmatan lil alamin). Gus Dur sering mendapat serangan karena sikap rahmatan lil alamin-nya ini, namun sebagaimana namanya, Addakhil yang berarti sang penakluk, Gus Dur tidak pernah gentar.

Dalam berbagai kesempatan, Gus Dur sering mengingatkan agar umat Islam selalu bersikap adil kepada siapa pun, termasuk kepada mereka yang non-muslim, kaum minoritas tak berkuasa, karena minoritas tak berkuasalah yang biasa menjadi korban ketidakadilan. Ia pun menyitir ayat Qur’an yang berbunyi, “Jangan sampai ketidaksukaanmu terhadap suatu kaum membuat kamu bertindak tidak adil.” (Al-Maidah ayat 8).

Semangat keadilan ini pula yang mendasari sikap Gus Dur terhadap kaum Yahudi, yang membuat ia acap disebut agen zionis. Namun tentu saja semua itu gugur, karena sepanjang hidupnya Gus Dur tidak pernah mengecilkan diri menjadi agen kelompok atau aliran mana pun. Banyak orang tidak tahu, bahwa sewaktu kuliah di Mesir, Gus Dur terlibat demo membela pemimpin Ikhwanul Muslimin, Sayyid Quthb, yang dijatuhi hukuman mati oleh Gamal Abdel Nasser.

Gus Dur tidak menyukai kesewenang-wenangan, baik atas nama agama maupun negara. Ia juga tidak menyukai jalan kekerasan, dan oleh karenanya begitu prihatin dan terpukul atas keterlibatan NU dalam pembantaian 65-66. Untuk menebusnya, Gus Dur bertekad menyebarkan sikap toleran dan anti-kekerasan, yang ia buktikan ketika menjadi Ketua Tanfidziyah NU maupun ketika menjadi presiden dengan meminta maaf dan mengusulkan pencabutan TAP MPRS Nomor XXV/1966 Tentang Pelarangan PKI dan ajaran Marxisme.

Kiprah dan komitmennya terhadap pluralisme dan keberagaman membuat ia dianugerahi gelar Bapak Pluralisme oleh banyak kalangan, namun Gus Dur bukan hanya bapak pluralisme. Ia juga pembela kaum lemah dan penentang otoritarianisme yang gigih dan pemberani. Semasa hidupnya ia terlibat aktif dalam advokasi warga dan pernah mengomandani kelompok aktivis penentang Orde Baru yang tergabung dalam Forum Demokrasi. Sejarah politiknya diwarnai perseteruan dengan Soeharto, khususnya ketika ia menjabat sebagai Ketua PBNU.

Kini sang pendobrak, pembawa obor pencerahan dan penentang kedikatoran itu telah pergi, atau lebih tepatnya kembali. Karena kita manusia berasal dari-Nya, dan akan kembali kepada-Nya (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un). Sementara, kita yang ditinggalkannya punya kewajiban untuk mencontoh hal-hal baik yang diperbuatnya, meniru semangat belajarnya, mengikuti keterbukaan pikirannya, memelihara semangat pluralisnya dan melanjutkan perjuangannya.

Selamat jalan, Gus.


Read More......

30.12.09

membongkar gurita cikeas













Minggu ini jagad media, politik dan perbukuan Indonesia diributkan oleh buku karya Dr. George Junus Aditjondro, Membongkar Gurita Cikeas. Toko online-ku, khatulistiwa.net, mendapat banyak pesanan untuk buku tersebut, tapi hingga saat ini stok kosong.

Tapi versi PDF dari buku tersebut bisa didownload di sejumlah sumber internet, meski tidak sama persis dengan edisi cetaknya. So, silakan download Membongkar Gurita Cikeas di link berikut ini: source.

Read More......

26.12.09

bezon on amazon

Since founding Amazon in 1994, he has revolutionized retailing. Now he's out to transform how we read.

No one has been more surprised by the success of the Kindle than Amazon CEO Jeff Bezos. The electronic book reader has become the online retailer's best-selling product. Bezos spoke to Newsweek's Daniel Lyons about the device, how the Apple tablet might affect it, and the next phase of digital distribution. Here are excerpts from their talk with Daniel Lyons from NewsWeek, Dec 2009:

Lyons: Amazon had an amazing year despite the bad economy. How did you do it?
Bezos: It is the basics. It is focusing on selection, low prices, and reliable, convenient, fast delivery. It's the cumulative effect of having this approach for 14 years. I always tell people, if we have a good quarter it's because of the work we did three, four, and five years ago. It's not because we did a good job this quarter.

Amazon started off as a retailer. Now you're also selling computing services, and you're in the consumer-electronics business with the Kindle. How do you define what Amazon is today?

We start with the customer and we work backward. We learn whatever skills we need to service the customer. We build whatever technology we need to service the customer. The second thing is, we are inventors, so you won't see us focusing on "me too" areas. We like to go down unexplored alleys and see what's at the end. Sometimes they're dead ends. Sometimes they open up into broad avenues and we find something really exciting. And then the third thing is, we're willing to be long-term-oriented, which I think is one of the rarest characteristics. If you look at the corporate world, a genuine focus on the long term is not that common. But a lot of the most important things we've done have taken a long time.

You've talked about Kindle being this example of working backward from the customer. Can you explain that?

There are two ways that companies can extend what they're doing. One is they can take an inventory of their skills and competencies, and then they can say, "OK, with this set of skills and competencies, what else can we do?" And that's a very useful technique that all companies should use. But there's a second method, which takes a longer-term orientation. It is to say, rather than ask what are we good at and what else can we do with that skill, you ask, who are our customers? What do they need? And then you say we're going to give that to them regardless of whether we currently have the skills to do so, and we will learn those skills no matter how long it takes. Kindle is a great example of that. It's been on the market for two years, but we worked on it for three years in earnest before that. We talked about it for a year before that. We had to go hire people to build a hardware--engineering team to build the device. We had to acquire new skills. There's a tendency, I think, for executives to think that the right course of action is to stick to the knitting—stick with what you're good at. That may be a generally good rule, but the problem is the world changes out from under you if you're not constantly adding to your skill set.

Have you been surprised by the Kindle's success?

Astonished. Two years ago, none of us expected what has happened so far. It is [our] No. 1 bestselling product. It's the No. 1 most-wished-for product as measured by people putting it on their wish list. It's the No. 1 most-gifted item on Amazon. And I'm not just talking in electronics—that's true across all product categories. We've spent years working on our physical books business, and today, for titles that have a Kindle edition, Kindle book sales are 48 percent of the physical sales. That's up from 35 percent in May. The business is growing very quickly. This is not just a business for us. There is missionary zeal. We feel like Kindle is bigger than we are.

Steve Jobs once predicted Kindle would fail because "people don't read anymore."
Well, I believe that reading deserves a dedicated device. For people who are readers, reading is important to them. And you don't want to read for three hours on a backlit LCD screen. It's great for short form. This is a really important point—that we humans co-evolve with our tools. We change the tools, and the tools change us, and that cycle repeats. For the last 20 years network-connected tools like smart phones, BlackBerrys, and desktop PCs connected to the Internet have been shifting us as a civilization toward short-form reading. I love my BlackBerry. It's great for reading e-mails. Same thing with my desktop computer. I'm very happy to read short articles, blog posts. But I don't want to read a 300-page book on my computer. And so what Kindle is doing is it's bringing the convenience of wireless connectivity to long form. I believe that we learn different things from long form than we learn from short form. Both are important. If you read The Remains of the Day, which is one of my favorite books, you can't help but come away and think, I just spent 10 hours living an alternate life and I learned something about life and about regret. You can't do that in a blog post.

Is there a next phase where the novel gets reinvented and the new digital medium gives rise to new art forms?

I'm skeptical that the novel will be "re-invented." If you start thinking about a medical textbook or something, then, yes, I think that's ripe for reinvention. You can imagine animations of a beating heart. But I think the novel will thrive in its current form. That doesn't mean that there won't be new narrative inventions as well. There very well may be. In fact, there probably will be. But I don't think they'll displace the novel.

So an Apple tablet would be a companion to the Kindle?
Absolutely. We've got Kindle for PC. And we're working on Kindle for the Mac. Our vision is that we want you to be able to read Kindle books wherever you want to read your Kindle books.

Ultimately do you not even care about selling the physical Kindle itself?
No, we do care. Our goal with the Kindle device is separate from the Kindle bookstore. With the Kindle bookstore, wherever you want to read we're going to support you. And then for the Kindle device, we want that to be the world's best purpose-built reading device. It's not a Swiss Army knife. It's not going to do a bunch of different things. We believe that reading deserves a dedicated device, and we want Kindle to be that device. It's like a digital camera. I like having the digital camera on my smart phone, but I also like having a dedicated camera for when I want to take real pictures.

Do you think that the ink-on-paper book will eventually go away?
I do. I don't know how long it will take. You know, we love stories and we love narrative; we love to get lost in an author's world. That's not going to go away; that's going to thrive. But the physical book really has had a 500-year run. It's probably the most successful technology ever. It's hard to come up with things that have had a longer run. If Gutenberg were alive today, he would recognize the physical book and know how to operate it immediately. Given how much change there has been everywhere else, what's remarkable is how stable the book has been for so long. But no technology, not even one as elegant as the book, lasts forever.

Do you still read books on paper?
Not if I can help it.

Read More......

16.11.09

politik yang membuat marah dan skeptis

Oleh filsafat aku diajar kritis. Oleh bisnis aku diajar kreatif. Tapi oleh politik aku (hanya) diajar marah dan skeptis.



Read More......

14.11.09

40 under 40











In its newest edition, Fortune Magazine released 40 people under 40 who drive success and change. They are smartest people on their area, from duo Google until duo Twitter and Kiva. Here is the list.











Read More......

31.10.09

ayo dukung kpk

Penahanan dua (mantan) pimpinan KPK oleh polisi memicu reaksi besar dari masyarakat. Sejumlah lembaga dan tokoh masyarakat mengecam tindakan tersebut. ICW mengecam polisi dan juga presiden, bahkan mantan presiden Gus Dur dengan berkursi roda menyempatkan diri menyambangi KPK untuk menyatakan dukungan moralnya.

Sejak awal, pemeriksaaan Chandra dan Bibit memang sudah bermasalah. Alasan yang digunakan polisi hampir-hampir tidak masuk akal: Bibit dan Chandra dianggap menyalahgunakan wewenang terkait pencekalan tersangka korupsi Anggoro Widjojo. Belakangan, polisi menambahinya dengan menyangka dua pimpinan KPK tersebut terlibat suap, yang dalam perkembangan pemeriksaan dianggap lemah, karena saksi Ari Mauladi yang sebelumnya mengaku menyerahkan uang suap menarik kesaksiannya karena tidak benar.

Kini, berbagai pihak kecewa, bahkan muak dan marah. Di Facebook, ribuan orang menyatakan dukungan terhadap dua pimpinan KPK yang ditahan lewat ribuan status dan grup. Banyak dari kita mengkhawatirkan semua itu hanya skenario untuk melemahkan KPK, untuk melemahkan pemberantasan korupsi di Indonesia. Apalagi terakhir ada kasus besar Bank Century yang melenyapkan uang negara 6.7 trilyun, yang dicurigai sejumlah kalangan melibatkan kampanye presiden, kepentingan keluarga dan kolega-kolega politiknya.

Aku sendiri banyak dihubungi teman-teman dan juga wartawan. Apa reaksi kalangan (mantan) aktivis '98 atas kasus ini. Reaksi tentu jelas: mengecam langkah kepolisian. Namun langkah masih dipikirkan. Banyak yang mendorong dan berharap ada tekanan lewat aksi jalanan. Tapi situasi kami (aku) sudah berbeda. Kami tidak lagi berada di kampus, di tengah-tengah ribuan mahasiswa, sehingga agak sulit membayangkan bisa menggalang ratusan atau bahkan ribuan orang seperti dulu.

Aku sendiri menunggu-nunggu reaksi mahasiswa sekarang. Entah kenapa kok nyaris tidak ada suara. Padahal koran, televisi dan internet sudah heboh dengan kasus ini. Sepertinya, kampus sudah kembali seperti tahun 80-an lagi, di mana hanya sedikit yang peduli terhadap politik. Apalagi, Jakarta kian dipenuhi mall yang membuat mahasiswa mungkin lebih nyaman menghabiskan waktu luangnya di sana.

Sebagai test in the water, aku membuat grup Gerakan Massa Mendukung KPK di Facebook. Aku ingin melihat bagaimana respon masyarakat khususnya kelas menengah Jakarta pengguna Facebook dan Twitter, jika disodorin opsi turun ke jalan. Jika banyak yang siap, aku--dan sejumlah kawan--yang sekarang lebih banyak berkutat dengan urusan mencari nafkah dan oleh karenanya hanya punya sedikit waktu luang, akan oke-oke saja jika diharuskan turun jalan kembali, karena saat ini tekanan seperti itu memang dibutuhkan.

Jika aparat negara sudah berubah menjadi alat kekuasaan semata, maka Anda tidak bisa memperbaikinya dengan hanya bersuara di ruang maya. Butuh tekanan lebih dari itu, yang bisa membuat mereka berpikir ulang untuk melanjutkan perilaku sewenang-wenangnya.


Read More......

28.10.09

mobile web use exploded in 2009







Mobile Web usage has been on the upswing ever since the iPhone leaped onto the stage. But new data form Opera suggests it's not just the iPhone that's delivering the Internet to smartphone users.

Opera, in its Opera Mini format, is simply a downloadable Web browser that works on certain smartphones to replace or augment the users options for accessing the Web--it's free, developed by Opera Software (and, curiously, Google). It works on a variety of phones from handset makers including LG and Nokia--but not the iPhone.

The stats for September from Opera's regular "State of The Mobile Web" report show that traffic flowing through Opera's servers rose by 8.7% over the previous month. So far in October it has netted 26.9% of the global mobile browsing market, beating Apple's iPhone Safari browser into second place with 21.2%. Nokia's not far behind with 20.8%. The number of people using the mobile Opera also went up 11.5% in September versus August figures.

But the number of people using Opera mobile rose by 150% compared to the same period in 2008--a figure which can only be interpreted as an explosion in use. And the growth coming from perhaps some unexpected quarters: The browser is installed mainly on Nokia and Sony Ericsson handsets around the world, and Blackberry units in the U.S., and the list of top 10 countries using the browser includes Ukraine and Vietnam.

These stats, generated by Opera, do kind of make it look like Opera's leading the mobile Web push around the world, but they're skewed in its favor. All of the surveys about smarphone usage show that while many more people may indeed be using Opera instead of Safari, iPhone users use their Internet connection way more than other other smartphone users--a stat reflected in Opera's user figures climbing nearly 12% in the month, while data going through its servers rose just 9%: The conclusion is that Opera users just don't use the browser all that much.

Still, it's undeniably a marker that in 2009 the mobile Web, which has been bubbling under boil for several years now, has finally reached boiling point--thanks to the efforts of Opera, Apple and Nokia. And lets not forget one transformational fact that will change the mobile browsing game forever from this year onwards: Dell's due to launch its smartphone with China's biggest network, and Apple's partnered with the second place network provider. With hundreds of millions of Chinese users soon to join the mobile Web fray (albeit with China's medieval Web censorship in place) this really is the year the Net goes mobile.

Taken from Fastcompany.com

Read More......